Cerpen: Asa Seorang Wartawan
Boy menatap layar komputernya dengan wajah yang penuh tekanan. Ia baru saja menerima pesan dari pemimpin media tempat nya bekerja kalau gaji bulan ini belum ada. Boy merasa lelah dan stres. Sudah setahun terakhir ini, pekerjaannya sebagai wartawan di Aceh selalu tidak menentu. Ia bekerja dari satu media ke media lain yang tak bertahan lama. Setiap kali media tempatnya bekerja tutup atau melakukan pemutusan hubungan kerja, ia harus mencari media baru lagi. Dan, setiap kali itu terjadi, ia selalu merasa stres dan tidak tenang.
Boy bangkit dari kursi, lalu menghampiri jendela kamarnya yang menghadap ke jalan raya. Ia melihat orang-orang yang berlalu lalang di bawah. Di antara mereka, ada beberapa orang yang membawa kantong berisi belanjaan. Mereka mungkin saja baru saja berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar di Banda Aceh, yaitu Suzuya Mall.
Boy tiba-tiba merasa iri dengan mereka. Ia dan keluarganya tidak bisa sering-sering ke mall seperti mereka. Bayangkan saja, harga satu tas di mall itu bisa saja sebanding dengan gaji sebulan yang ia terima sebagai wartawan. Ia tahu ia harus bekerja keras lagi, mencari pekerjaan yang lebih baik dan lebih stabil agar bisa memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya. Namun, pikiran itu selalu sulit untuk diwujudkan.
Boy merenung, lalu ia ingat pada salah satu temannya yang sukses berbisnis. Ia pernah mengajaknya bergabung di bisnisnya, namun ia menolak dengan alasan ia lebih nyaman bekerja sebagai wartawan. Namun, sekarang ia mulai menyesal karena pilihan tersebut.
"Tapi, sudah terlambat untuk menyesal. Aku harus bangkit lagi," gumam Boy dalam hati. Ia kemudian memutuskan untuk mengatur strategi baru untuk menemukan pekerjaan yang lebih stabil dan bisa membawa keluarganya keluar dari kondisi ekonomi yang sulit ini.
Boy semakin stres ketika ia meminjam uang dari bank untuk membangun rumah dengan menggunakan SK PNS mertuanya sebagai jaminan. Dia sangat takut jika gagal membayar pinjaman, ia akan malu mertuanya. Kondisi ekonomi yang semakin sulit membuat Boy semakin sulit mengatur keuangan.
Tak lama setelah itu, Boy mendapat pekerjaan di pemerintah sebagai tenaga kontrak. Namun, rasa malu sering menghantui dirinya karena harus mengenakan seragam yang ia anggap tidak cocok dengan dirinya. Hal ini membuatnya tidak betah dan akhirnya mengundurkan diri setelah beberapa bulan bekerja.
Setelah kehilangan pekerjaan di pemerintah, Boy semakin putus asa dan merasa kehilangan arah. Dia merenungkan kembali apa yang menjadi tujuannya sebagai wartawan. Boy memutuskan untuk kembali menjadi wartawan lepas dan mencari nafkah dengan menulis artikel untuk beberapa media online.
Meskipun pekerjaannya tidak stabil, Boy merasa lebih bebas dan dapat mengatur waktunya sendiri. Dia mulai menemukan kembali semangatnya sebagai wartawan dan membangun portofolio yang cukup memuaskan. Namun, kondisi ekonomi yang semakin sulit membuatnya tetap merasa khawatir tentang masa depan keluarganya.
Boy tiba-tiba merasa iri dengan mereka. Ia dan keluarganya tidak bisa sering-sering ke mall seperti mereka. Bayangkan saja, harga satu tas di mall itu bisa saja sebanding dengan gaji sebulan yang ia terima sebagai wartawan. Ia tahu ia harus bekerja keras lagi, mencari pekerjaan yang lebih baik dan lebih stabil agar bisa memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya. Namun, pikiran itu selalu sulit untuk diwujudkan.
Boy merenung, lalu ia ingat pada salah satu temannya yang sukses berbisnis. Ia pernah mengajaknya bergabung di bisnisnya, namun ia menolak dengan alasan ia lebih nyaman bekerja sebagai wartawan. Namun, sekarang ia mulai menyesal karena pilihan tersebut.
"Tapi, sudah terlambat untuk menyesal. Aku harus bangkit lagi," gumam Boy dalam hati. Ia kemudian memutuskan untuk mengatur strategi baru untuk menemukan pekerjaan yang lebih stabil dan bisa membawa keluarganya keluar dari kondisi ekonomi yang sulit ini.
Tak lama setelah itu, Boy mendapat pekerjaan di pemerintah sebagai tenaga kontrak. Namun, rasa malu sering menghantui dirinya karena harus mengenakan seragam yang ia anggap tidak cocok dengan dirinya. Hal ini membuatnya tidak betah dan akhirnya mengundurkan diri setelah beberapa bulan bekerja.
Setelah kehilangan pekerjaan di pemerintah, Boy semakin putus asa dan merasa kehilangan arah. Dia merenungkan kembali apa yang menjadi tujuannya sebagai wartawan. Boy memutuskan untuk kembali menjadi wartawan lepas dan mencari nafkah dengan menulis artikel untuk beberapa media online.
Meskipun pekerjaannya tidak stabil, Boy merasa lebih bebas dan dapat mengatur waktunya sendiri. Dia mulai menemukan kembali semangatnya sebagai wartawan dan membangun portofolio yang cukup memuaskan. Namun, kondisi ekonomi yang semakin sulit membuatnya tetap merasa khawatir tentang masa depan keluarganya.
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa share ya!